Adab Menuntut Ilmu

2009-03-23 09:53

Ust Dr Abdullah Yasin

 

١) قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

(رواه مسلم)

 

٢) قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللهِ لاَيَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْم الْقِيَامَةِ

(رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه)

 

٣) قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِي بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْلِيُمَارِي بِهِ السُّفَهَاءَ وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ

(رواه الترمذى)

 

 

Terjemahan:

 

1.         Sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mempermudahkan baginya jalan (menuju) ke syurga.

 

[HR Muslim]

 

 

2.         Sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): Barangsiapa yang menuntut suatu ilmu (yang semestinya) untuk mendapat redha Allah (tetapi) ia tidak menuntut melainkan untutk mendapat ganjaran duniawy, niscaya kelak dia pada Hari Kiamat tidak akan memperolehi bau syurga.

 

[HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah]

 

 

3.         Sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): Barangsiapa yang menuntut ilmu supaya dengannya (ilmu itu) ia boleh berbantah-bantahan dengan ulama ataupun agar boleh bertengkar dengan orang jahil ataupun dengannya ia disanjung oleh manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.

 

[HR Tarmizi]

 

 

 

Kepentingan Menuntut Ilmu:

 

Segala urusan dan pekerjaan tidak akan sempurna tanpa ilmu, apakah dalam urusan duniawy ataupun urusan ukhrawy. Malahan akidah (iman) seseorang tidak sah kalau hanya dengan bertaqlid (mengikuti tanpa ilmu) dan ibadatnya pula boleh berobah menjadi maksiat jika ia dilaksanakan dalam kejahilan.

 

 

 

Pembagian Ilmu:

 

Walaupun ilmu itu sangat penting dan berguna tetapi derjat kepentingannya tidak sama, malahan ada juga ilmu yang tidak bermanfaat. Oleh itu Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) selalu berdoa:

 

“Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu yang bermanfaat”.

 

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu daripada ilmu yang tidak bermanfaat”.

 

 

Ilmu yang bermanfaat ialah segala ilmu yang mendorong dan membimbing kita untuk melakukan kebaikan atau mencegah kita daripada melakukan kejahatan. (taysiir Al-Karim V/68).

 

Ringkasnya: Segala ilmu yang boleh menyempurnakan tugas kita yang fardhu kifayah maka hukum mencarinya adalah fardhu kifayah pula, demikian juga kalau ia dapat menyempurnakan tugas kita yang fardhu ‘ain maka hukum menuntutnya menjadi fardhu ‘ain pula.

Kaedah Ushul Fiqh:

مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Tidak sempurna suatu kewajipan kecuali dengannya maka dia juga (hukumnya) wajib”.

Adab-adab Menuntut Ilmu:

Agar Ilmu yang dipelajari membawa berkah dan berguna maka setiap orang yang menuntut ilmu mestilah menjaga adab-adabnya, lebih-lebih lagi jika ilmu yang dituntut itu berkaitan dengan ilmu-ilmu agama (‘Ulumuddin). Adapun di antara adab-adabnya ialah sebagai berikut:

  1. Niat Mesti Ikhlas

Yang dimaksudkan niat yang ikhlas karena Allah ialah dia berniat ketika menuntut ilmu dan mengajarkannya semata-mata untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan supaya dia dapat memelihara kemurnian syare’at Allah dan menyebarkannya serta melepaskan dirinya dan umat daripada kejahilan.

 

Adapun orang yang menuntut ilmu syara’ (ilmu agama) dengan niat agar mendapat sesuatu ganjaran dunia maka itu bermakna ia telah mendedahkan dirinya kepada siksaan Allah.

 

Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) pada hadis (2) di atas iaitu ia kelak pada Hari Kiamat tidak akan memperolehi bau syurga.

 

Demikian juga kalau ia menuntut ilmu syara’ dengan maksud supaya dapat berbantah-bantahan dengan ulama atau orang-orang yang jahil atau supaya orang lain menyanjung dan hormat kepadanya. Maka nasib orang ini kelak sebagaimana tercantum dalam hadis (3) iaitu akan Allah memasukkannya ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah.

  1. Mengamalkan Ilmunya

Jika dia mengamalkan ilmu syara’ yang sudah dipelajari itu maka Allah SWT akan mewariskan kepadanya ilmu-ilmu yang belum dia ketahui. Ini sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya”. (Muhammad :17)

Tetapi sebaliknya barangsiapa yang tidak mengamalkan apa yang telah dipelajarinya, maka besar kemungkinan Allah akan mencabut atau menarik kembali ilmunya itu.

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingkatkan dengannya”.

(Al-Maidah :13)

  1. Berakhlak Mulia

Orang yang menuntut ilmu syara’ mestilah menghias diri mereka dengan budi pekerti yang mulia. Mereka hendaklah sabar dan tenang, baik penampilannya, lemah lembut, suka berbuat makruf (kebaikan), tabah menghadapi cobaan dan cabaran dan akhlak yang terpuji lainnya menurut syara’ atau adat yang sejahtera (‘urf salim).

Selain itu mereka juga mestilah mengikis daripada diri mereka segala sifat yang tercela seperti suka mengeluarkan kata-kata keji, celupar, menyakiti hati orang, memaki, kata-kata kasar, mengumpat, bengis, tidak bertimbang rasa dan lain-lain sifat tercela lainnya menurut syara’ atau adat yang sejahtera.

Jadi orang yang menuntut ilmu syara’ mestilah terserlah pada dirinya akhlak dan prilaku yang mulia dalam pergaulan dan masyarakat. Mereka mestilah menjadi manusia yang lebih baik jika dibandingkan dengan orang yang samasekali tidak melibatkan diri dengan kelas-kelas ilmu syare’at seperti ilmu Akidah, Fekah, Tafsir, Hadis, Sirah dsbnya.

Oleh itu jangan sampai terbalik, justeru yang jahil dengan ilmu agama lebih bersopan-santun dan berlemah-lembut dalam pergaulan jika dibandingkan dengan orang yang berilmu. Padahal Allah SWT menafikan persamaan antara mereka:

“Adakah sama orang-orang yang megetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu)?”

(Az-Zumar :9)

  1. Bersungguh-sungguh Mencari Ilmu

Ilmu tidak dapat dicapai dengan cara santai (relax). Para penuntut mestilah melalui bermacam jalan untuk menyampaikannya ilmu. Mereka mestilah bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan ilmu, samada dengan menghadiri ceramah, menekuni kelas bimbingan ataupun dengan membaca kitab dan mendengar kaset agama dan lain-lain cara lagi. Sungguh tepat sabda Nabi (sallallahu alaihi wasalam):

 

 

إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya Ilmu itu dengan belajar”

[HR Bukhari]

Menyadari akan hakekat inilah maka salafus saleh (orang-orang saleh zaman awal) sanggup mengadakan perjalan berbulan-bulan untuk menyelesaikan beberapa masalah agama yang belum mereka fahami. Dan berkat kesungguhan mereka dalam menggali dan mencari ilmu inilah akhirnya mereka menjadi umat yang gemilang dan disegani musuh.

Sikap tersebut semakin pudar pada akhir zaman. Semangat menuntut ilmu di kalangan umat Islam semakin berkurang. Dan kalaupun ada kesungguhan usaha mendalami ilmu, namun kesungguhan mereka kadang-kadang tidak seimbang. Sungguh banyak mereka yang menumpukan kepada ilmu-ilmu yang bersifat “fardhu kifayah” tetapi mengabaikan ilmu-ilmu yang boleh menyempurnakan “fardhu ain” mereka, padahal fardhu ‘ain adalah tanggungjawab setiap pribadi yang mesti diberi keutamaan mengatasi fardhu kifayah.

Kita akur betapa pentingnya sains dan teknologi serta cabang-cabang ilmu duniawy lainnya supaya kita boleh hidup di dunia dengan sempurna dan bahagia. Tetapi kita juga mesti akur bahwa untuk kebahagiaan hidup di akhirat nanti kita perlu kepada ilmu. Bagaimana iman dan ibadah khusus akan sempurna jika kita tidak mempelajari ilmu Akidah dan Fekah? Bagaimana kita boleh mentaati Allah dan Rasul secara sempurna kalau kita tidak berdampingan dengan ilmu Tafsir dan ilmu Hadis? Bagaimana kita dapat mengikuti perjalanan hidup Nabi Muhammad (sallallahu alaihi wasalam) kalau tidak pernah mempelajari Sirah Rasulullah (Perjalanan Hidup Rasul?)

Jadi kesungguhan itu sangat penting, samada ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Jika tidak berlaku adil dalam hal ini maka akan pincanglah kehidupan kita dan selanjutnya tidak tercapai matlamat doa kita:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkan kami dari neraka”.

  1. Memohon Taufiq Dari Allah

Taufiq atau izin Allah adalah termasuk salah satu daripada jenis nikmat Allah yang sangat agung. Berkat taufiq dari Allah, kita dapat melaksanakan suruhanNya dan menjauhi laranganNya. Dan inilah sebenarnya kandungan Hauqalah:

“Tiada daya, tiada kekuatan melainkan dengan Taufiq Allah”

Maksudnya: Tidak ada daya bagi kita untuk melaksanakan suruhanNya, dan tidak ada kekuatan bagi kita menjauhi laranganNya melainkan dengan Taufiq (Izin) Allah.

Jadi peranan Taufiq Allah bukan hanya sebagai pendorong sehingga kita suka dan gemar mendalami ilmu, malahan juga adalah berkat TaufiqNya kita dapat melaksanakan apa yang disukaiNya dan menjauhi laranganNya.

Dan ekoran dari tidak mendapat Taufiq untuk mencari ilmu maka seseorang akan menjadi bodoh (Jahil) dan akibat daripada tidak mendapat Taufiq untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari maka akan muncullah sifat degil (‘Inad). Dan kedua-dua golongan inilah yang kita minta agar dilindungi oleh Allah SWT pada akhir Surah Al-Fatihah:

“Bukan golongan yang Engkau murkai (‘Inad) dan bukan pula golongan yang sesat (jahil)”.  (Al-Fatihah :7)

Sedangkan “Shiraathal Mustaqim” pula ialah golongan yang memiliki ilmu dan mengamalkan ilmunya. Merekalah orang telah mendapat nikmat dari Allah iaitu para Nabi, Shiddiqin, syuhadaa dan shalihiin (Lihat An-Nisaa :69).

  1. Mendahului Ilmu Yang Lebih Penting

Walaupun semua ilmu yang berguna itu penting bagi kita, namun tertib keutamaannya tidak sama. Ilmu utama yang mesti diperkemas oleh setiap mukallaf mendahului ilmu lain ialah: Fiqhul Iman (Akidah) dan Fiqhul Ahkaam (Fekah), sebab tanpa dua ilmu utama ini maka tidak mungkin akan sempurna matlamat hidup manusia iaitu mengabdikan diri (ibadat) kepada Allah. (Lihat Kitab: “Kaedah Menuntut Ilmu Agama” oleh Dr Abdul Aziz Al-Qari, terjemahan Abdullah Yasin).

Tanpa Fiqhul Iman (Akidah) tidak mungkin akan tercapai keikhlasan dan tanpa Ahkaam tidak mungkin dapat melakukan ibadah dengan tepat dan betul. Oleh itu sangatlah keliru kalau ada muslim yang utamakan ilmu Tashawwuf, Ushul Fiqh, Tarikh Islam sebelum dua ilmu utama di atas. Dan lebih keliru lagi kalau justeru hidup seseorang hanya ditumpukan kepada ilmu-ilmu duniawy saja tetapi kosong dengan dua ilmu asas di atas.

  1. Hormat Kepada Guru

Guru sangat wajar dihormati oleh murid-muridnya karena dialah yang telah banyak berjasa menyirami rohani mereka dengan ILMU dan IMAN. Oleh itu guru berhak dihormati pada batas-batas yang wajar tanpa ghuluw (berlebih-lebihan) dan tidak pula taqshir (kurang hormat).

Imam Syafi’i tidak malu mengaku seorang Badui sebagai gurunya walaupun Badui itu hanya mengajar beliau bagaimana cara membedakan antara anjing jantan dengan anjing betina.

Dan Abbas (paman Nabi) sanggup menunggu berjam-jam di luar rumah gurunya ketika menziarahinya karena beliau difahamkan gurunya sedang rehat.

Dan termasuk juga adab murid kepada guru ialah kalau mereka mengemukakan pertanyaan hendaklah pertanyaan yang bersifat ingin tahu dan menambah pengetahuan, bukan pertanyaan mencabar atau menguji atau bertujuan melaga-lagakan antara sesama guru; murid hendaklah tabah menghadapi karenah mereka yang kadang-kadang terkeras, terkasar, marah karena mereka juga manusia biasa yang kadangkala dapat dipengaruhi oleh sebab-sebab luaran. Ingat falsafah merotan dalam pendidikan, guru berhak merotan murid pada waktu-waktu tertentu, bukan sebaliknya.

Back

Search site

Copyright @ 2009 Designed by Bang Seif

Build a personal website

Terima Kasih Atas Kunjungannya